Sabang. Nama ini semula hanya aku kenal dari potongan
judul lagu yang cukup populer ketika duduk di bangku Sekolah Dasar; “dari
Sabang sampai Merauke”. Siapapun yang pernah “makan” bangku Sekolah Dasar,
pasti mengenal lagu ini, karena lagu ini cukup sering dinyanyikan di
ruang-ruang sekolah dasar, dan bisa memupuk semangat Nasionalisme kita. Dan atas
berkat rahmat Allah (niru UUD...) akhirnya aku bisa juga menjejakan kaki di
pulau Indonesia terujung ini. Sensasional! Bersama dengan rekan peneliti, aku
mencoba menjelajah Sabang. Sabang sendiri terdiri dari Pulau Weh (Yang paling
besar) kemudian terdapat pulau-pulau kecil lainnya, seperti Pulau Klah, Rondo,
Rubiah, dan Seulako.
Pulau ini mudah dijangkau. Dari Pelabuhan Ule Lheu di Kota Banda Aceh, bersama rekan
aku menaiki kapal penumpang boat dengan tarif ekonomi sekitar Rp. 60.000 dengan
waktu tempuh sekitar 45 menit. (Tips perjalanan: untuk menuju pelabuhan Ule Lhe dari pusat Kota
Banda Aceh, kita bisa menggunakan jasa Bentor dengan tarif 15 sampai 20 ribu,
(tergantung nego..) kemudian pemesanan tiket kapal boat bisa dilakukan setengah
jam sebelum pemberangkatan; jam 09.00 atau lebih kami naik kapal di kelas
ekonomi, dan 45 menit kemudian sampailah di pelabuhan Pulau Weh. Sesampainya di
Pelabuhan Pulau Weh, aku dan teman mengambil sepeda motor yang sudah kami pesan
sebelumnya waktu di pelabuhan Ule Lheu. Dengan tarif 70 ribu (untuk penyewaan
sehari) kami bisa keliling menggunakan sepeda motor matic, sehingga lebih
leluasa menggunakan waktu, karena kami (ini satangnya...) hanya memiliki waktu
satu hari saja, atau sampai sore untuk menjelajah pulau ini. It’s oke...
Kuda besi inilah yang menemani kami menjelajahi Kota
Sabang. Perjalanan serasa sangat menyenangkan karena jalannya yang bagus,
berkelok-kelok, sementara di sisi kiri dan kanan terdapat pohon yang rindang,
dan terkadang tersaji pemandangan laut dan panorama pantainya yang indah dan amazing! (kata
Tukul). Target pertama jelalah kami adalah tugu kilometer nol. Tugu ini berada
di pulau bagian ujung, dan untuk mencapai lokasi ini kami harus melalui jalan
yang berkelok, menaik, dan membelah hutan. Di sisi kiri dan kanan kami sering
berjumpa dengan sekawanan monyet yang bermain di jalan, bahkan sampai ke lokasi
tugu. Sampailah kami di Tugu Kilometer Nol. Sayang tugu monumen ini kurang
terawat, sehingga terkesan kotor. Tapi jangan khawatir karena sampai ke lokasi
ini merupakan pengalaman yang menarik, dan juga karena pemdangan sekitarnya
menawarkan pesona yang sulit dilupakan. Puas jeprat jepret, kami kembali
menaiki kuda besi, dan meelwati pantai Iboih. Sebuah pantai yang menawarkan
banyak lokasi untuk spot snrokling, baik di pantai ini sendiri, maupun di
seberang (tidak jauh) di pulau Rubiah. Untuk menghilangkan penasaran aku
mencoba snrokling, ya, di pantai ini saja, karena pantai ini sangat indah,
airnya biru, dan juga terdapat lokasi snrokling. Menyewa peralatan 30 ribu, dan
jasa pendamping, ya, katanya untuk sekedar beli roko. Mantap! Terumbu karang
dan ikan-ikan yang betebaran di sekitarnya sungguh memikat. Huuuuuuh... Tapi
sayang,
waktu kami sangat singkat, sehingga terpaksa harus
mengkahiri petualangan sampai di sini. Kami bersiap pulang, dan sampai di
pelabuhan pulau Weh menjelang jam 4 sore karena kapal akan berangkat jam 4.00. Tapi
sebelum menaiki kapal, kami menyempatkan membeli kue kacang hijau khas kota
Sabang...sayonara, dan kami pun pulang, seraya berharap bisa kembali menampi
kaki di bumi indah ini. Mustofe